Rabu, 01 Februari 2012

bulan separuh...

Dikala mentari terbenam diufuk barat,aku mencoba duduk ditepi peraduan.Diam seorang diri mengenang kisah lalu yang terluka.Rembulan separuh muka mulai menampakkan dirinya,menatap diriku penuh tanya.Rembulan tersenyum kala tahu jawabanya, dan tinggal kan pesona dihatiku.Walau separuh cahayanya masih tertinggal namun masih dapat memberi ketenangan.Semoga awan hitam tak muncul beriring merayapi sang bulan yang membuat cahayanya mulai memudar samar dan menjadikan gelap yang kudapat.Bulan yang kian redup semoga mulai terang kembali.Cahayanya membias menembus kegelapan malam.Sinar indahnya membelai lembut wajah sang bulan.Menambah keayuan yang telah lama menyelubungi.Kau hadir dengan sejuta pesona.Berikan mawar kedamaian,membuat aku terdampar di tepian keteduhan hati dengan satu asa dan harapan.

"berjalan hanya dengan mata hati, bernafas hanya dengan tekad."


Indahnya langit malam ini mengajariku akan suatu hal, segalanya akan selalu berganti seperti malam ini, sebelumnya aku melihat mendung menutupi hamparan langit malam,namun angin mematuhi melukis takdirMu mengganti gelapnya langit mejadi terang nan elok, langit malam cerah seolah menitipkan senyuman bulan, mereka ingin kita selalu tersenyum, tersenyumlah untuk sekarang dan nanti sampai waktu cukup untuk melepas kita pergi, karena dengan senyuman segala hal yang menyiratkan kesedihan akan berangsur menghilang dan membuat segalanya terasa lebih mudah, kala kesedihan itu menghampiri ingatlah setiap kebahagiaan yang kita terima selama ini, bukankah porsi kebahagiaan lebih banyak dibandingkan kesedihan, lalu apa lagi yang kita risaukan? Karena setiap kesedihan atau kebahagiaan akan segera berakhir dan berganti dengan peristiwa lagi, sebuah proses pembelajaran untuk memahami mengapa kita hidup saat ini.

Aku berjalan hanya dengan mata hati, bernafas hanya dengan tekad, aku mendaki penuh dengan teka teki, dimanakah bulanku?

Bulanku selalu bersinar, namun makna sinarnya hanya mengenai mereka yang mau membuka diri, meskipun cahayanya seolah menerpa setiap insan di bumi ini, tapi tiap tiap yang menerima berbeda mengartikannya, ada yang bingung mengapa bulan ini kadang bersinar kadang redup, ada yang sedih kenapa bulan redup malam ini, ada yang risau akankah dapat melihat lagi indahnya bulan malam ini, dan ada pula yang berfikir mengapa bulan tidak pernah lelah bersinar? Kita berada dimana, kita berhak memilih.

Bulanku selalu bersinar, takdirnya memberi arti kehidupan ini, aku pun ingin seperti dia dengan segala kemampuan yang aku miliki saat ini, berusaha memberi arti, bukankah kita terlahir di dunia ini adalah dengan takdirNya, dan kita terlahir di dunia ini bukan tanpa tujuan melainkan membawa pesan- pesan Tuhan, hidup ini pilihan, dan aku telah putuskan, pilihan yang wajib aku perjuangkan. Aku dalam masa proses, tapi keyakinanku sangat kuat, aku harus berjuang.SEMANGAT!!!

"Lilin dan Bintang"

Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin. Lilin itu berkata, " Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan,"Seperti lilin, Kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, " Andai saja aku bisa memilih... "Jangan pernah mengeluh, Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam Rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat." Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya." Semangat dan pastikan semuanya ALL IS WELL.

Tuk Bulan, semoga takkan pernah redup"

Suatu ketika ku tersesat dalam pekatnya gelap, dalam heningnya sepi, dalam dinginnya malam.Sekelebat, setitik cahaya bulan menghampiriku walaupun ia jauh di sana.Bulan itu menerangiku,menghangatkanku,menuntun jalanku. Namun benakku bertanya apakah dialah pencarianku selama ini? Apakah ada yang memilikinya? Mungkinkah dia bulan kepunyaanku? Tanpa ada yang akan merebutnya dari tanganku? Atau dia hanya maya semu atau buah imajiku yang terlalu banyak berkhayal? Apapun itu setidaknya ku bisa menikmatinya saat ini walau hanya cahayanya entah sampai kapan?

bULAN Yang PlinPlan

Yang satu matahari…Yang satu bintang…Sama berpijar… mempesona…Matahari menawarkan kehangatan…Bintang memberikan keteduhan…Tanpa banyak kata bintang mencuri, hatiku. Lalu apa yang harus kukata? Jika matahari meminta asa yang pernah dititipkannya, Cintaku. Akulah bulan yang malang, terjebak dalam rasa yang rumit…Saat rindu membuncah, saat tangisku pecah. Hatiku menjadi gelisah. Pikiranku pun gundah. Saat kumerasa kalah. Kalah terhadap janjiku sendiri. Kalah terhadap cita-cita yang terpatri. Namun akal sehatku menggeliat menolak. Aku harus tetap berdiri tegak.Teguhkan hati untuk beranjak. Selesaikan tugas sampai tiba finish kontrak.Enyahkan segala rasa. Himpun kasih atasnya.Karena bintang selalu berkata: ”My life is perfect because i have you"...haruskah kuabai rayu itu?Susahnya jadi bulan yang plin plan.Bulan tak akan plin plan hanya karena mentari menyekat di sela kolong langit kehampaan.Atau mungkin kelak bulan memilih menjadi sabit yang tergulung malam…Tanpa bintang, tanpa matahari… Yang pasti malam akan mengikis sebuah kata…Bintang akan terbenam dalam bara mentari…Bulan, Bintang, dan Matahari jadi abu tanpa bara…Matahari…Bintang…Matahati…Bintanghati…Terimakasih atas cahaya cinta yang menyilaukan…Bulan mencari jawab di bilik rongga setiap titik gelora..Dalam semesta langit hati yang berpendar…

menjadi bintang


"Antara bulan dan matahari kau mau aku jadi apa?"

"aku mau kau jadi bintang"

"aku hanya beri pilihan matahari dan bulan bukan bintang"

"tapi aku tetap mau kau jadi bintang."

"kenapa?"

"karena bagiku kau adalah satu satunya yang paling bercahaya dalam berjuta"

"jika aku jadi bintang,kau mau jadi apa?"

"aku mau jadi bulan."

"kenapa bulan? mataharikan lebih ceria warnanya."

"karena aku mau selalu ada untuk mu"

"maksud mu?"

"bintang hanya hadir di kala malam,bersama itu bulan tetap akan menantinya.Sedangkan di kala siang terbit mentari, bintang itu tiada"

Bintang itupun tahu bahwasannya,Bulan itu akan lebih indah di tempat yang lebih dekat dengan matahari...

Tahun berganti tahun...Bintang itupun pergi meninggalkan dimensinya..Mencari dimensi lain yang bisa menerimanya...Dan hingga suatu saat dia menemukannya..Sebuah dimensi yang hanya ada keegoisan..Tak ada lagi kehangatan seperti tempat dia tinggal dulu..Tahun pun tlah banyak berganti..Dan bintang itu masih sendiri...Hingga di suatu malam yang tak terduga...Sebuah cahaya indah datang menghampirinya..Cahaya yang membuat bintang itu terpaku..Dan itu sebuah bulan..Keindahannya sejukan hati sang bintang yang di rundung penyesalan..Bulanpun memperkenalkan dirinya,Bercerita banyak tentang yang ada..Demikian juga dengan bintang..Ceritakan semua kisah yang pernah terjadi pada hidupnya..Dan kini..Saling percaya adalah mereka..Ketulusan adalah mereka..Hari hari yang indah adalah hari mereka..Bagai bunga yang bermekaran..Dalam setiap kalut bulan ada..Dalam setiap tawa,bulan juga menemani..Bulan itupun mengajarkan bagaimana harus melihat kedepan..Ajarkan semua yang belum pernah bintang itu lihat...Hidup bintang itu kini jauh lebih baik..Hingga suatu saat bulan itu mengabarkan sesuatu yang mengiris hati bintang..Sesuatu yang tak terduga...Bulan harus pergi...Tinggalkan semua yang ada...Tinggalkan kisah yang telah menjadi benih cinta..Dan tinggalkan bintang sendiri lagi dalam gelap malam..Bintang itu terdiam saat bulan berhenti berbicara..Rasa kehilangan muncul dalam benaknya...Dalam hati dia berteriak,'Bulan,kamu jangan pergi!..'Tapi mulutnya membisu seribu bahasa...Air mata membasahi wajah..Yang di bayangkan hanya kehilangan yang besar..Bulan itu pun membacanya..Setiap bahasa raut wajahnya...Bulan berkata,'Aku masih di sini'Tapi itu hanya sekejap saja bagi bintang..Dan hari itu tiba...Bulan pergi..Bintang berbisik pada bulan..Dengan halus dia berkata,'Tetaplah denganku'Bulan hanya tersenyum...Senyum perpisahan...Lalu tak lama setelah itu dia pun menenangkan hati bintang..'Itu akan menjadi sebuah kenangan buat aku''Tetap ingatlah aku'Dan itu adalah kata terakhir yang bulan ucapkan..Mengiris hati..Remukan jiwa..Kini bunga tak lagi bermekaran..Burung-burung berhenti berkicau..Seorang sahabat tlah pergi...Seorang sahabat tlah tinggalkan sejarah indah di hidupnya...Bintang itupun tahu bahwasannya,Bulan itu akan lebih indah di tempat yang lebih dekat dengan matahariDan perpisahan itu adalah kunci dari semuanya..Bintang itu kembali pergi menembus ruang dan Waktu...Menuju apa yang selama ini dia tak bisa tuju...Masih terbayang dalam benak bintang.dalam hati dia bertanya, 'Apakah disana kau masih mengingatnya,Semua kenangan yang tlah tercipta....?Apakah disana kau masih menyimpannya,rasa cinta yang dulu ku berikan....?

"Betapa berharga sebuah kemerdekaan dan kebebasan menentukan pilihan sendiri"


LANGIT indah bertabur temaram bintang malam ini. Sang dewi malam dengan Anggun menebar senyumnya yang merekah. Seperti bibir bidadari surga. Lama rasanya aku melupakan atap dunia itu. Aku terlalu sibuk berada di bumi hingga tak sempat menengok langit. Bintang, benda langit itu berkerlap-kerlip seakan menggodaku. Bagai tangan malaikat yang melambai agar aku menghampirinya. Ia mengingatkanku pada mitos bintang jatuh.



Kata orang, bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan manusia. Benarkah? Jika iya, aku rela menunggu benda langit itu tertarik gravitasi bumi, meski harus menantinya tiap malam, hanya untuk satu permintaan. Tapi sejenak aku tersadar kenapa pula aku jadi seperti bocah. Mana mungkin benda langit yang tak mampu melawan takdir untuk dirinya sendiri tersebut mampu mengabulkan keinginan makhuk lain?



Seandainya bintang jatuh mampu mengabulkan keinginan, pasti dia akan meminta sendiri kepada Tuhan agar kontraknya di atap dunia diperpanjang. Buktinya, ia memilih menuruti kehendak alam.Sayang, saat ini, aku yang sedang sentimentil merasa bintang yang menggoda itu seakan seperti pantulan cermin atas diriku sendiri. Awalnya begitu indah, tinggi di Awang-awang namun tak terjamah, jauh, dan jika Tuhan menghendakinya jatuh, ia tak mampu melawan.

Langit masih bertabur bintang di atas sana, masih menyiratkan keindahan alam awang-awang nun tak terjamah. Angin malam mulai membuatku menggigil. Aku baru sadar, semua masih biasa saja sampai kemarin malam, namun sebuah kejadian tadi malam benar-benar menjungkir balik duniaku. Seharusnya, malam ini menjadi saat paling indah dalam hidupku. Aku telah merangkai jutaan Angan tentang masa depan, tentang rumah mungil yang hangat. Tentang bayi-bayi lucu yang kelak menjadi calon profesor.



Sebuah hal yang tak aku duga, ternyata, merusak segalanya. Hari ini kebahagiaanku itu berubah menjadi Monster paling menakutkan. Semua tak seperti kemarin lagi. Dunia tak lagi indah bagiku, meski langit sedang berpesta di atas sana. Hatiku terasa jauh lebih sakit saat tadi malam.





Baru kali ini aku tahu betapa berharga sebuah kemerdekaan dan kebebasan menentukan pilihan sendiri. Andai aku bisa, aku ingin kembali ke masa lalu, aku ingin bersama seseorang yang pernah aku anggap malaikat itu. Tak apalah aku hanya menjadi bintang dalam gelap malam tanpa di terangi sang bulan seperti yang lain, hanya hidup bersama Awan.



Bulan, mengingatnya kembali membuat dadaku sesak. Aku bodoh, aku lemah, dan aku tak mampu melawan. Kuintip lagi langit yang tampak jelas dari tempatku menyudut, tetap semarak meski sangat sepi. Pasti sudah lewat dini hari, kelengangan pun meraja.

‘Pemetik Bintang’


Suatu ketika pernah ada cerita. Tentang sekumpulan orang dengan asa dan impian yang sangat tinggi untuk berjalan menyusuri dunia mencari tempat terdekat dengan bintang. Orang-orang itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Pemetik Bintang’

Para Pemetik Bintang berjalan dan terus berjalan tanpa kenal lelah, hingga pada akhirnya mereka sampai pada puncak gunung tertinggi di dunia. Mereka menanti malam berbintang tiba, dan begitu malam menghampiri, mereka segera melakukan pemujaan dan berdoa kepada para bintang. Mereka yakin bintang dapat menedengar permohonan dan mengabulkannya bila mereka para Pemetik Bintang berada begitu dekat dengan para bintang.

Benar saja. Tiba-tiba langit bercahaya begitu terang, dan menjatuhkan beberapa bintang kepada para Pemetik Bintang untuk mengabulkan harapan mereka. Merasa tujuan mereka telah tercapai, para Pemetik Bintang memutuskan untuk berpisah dan menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan sumber harapan yang telah mereka miliki.

Cerita Pemetik Bintang itu diceritakan turun temurun dari berbagai generasi, namun tentu saja di masa kini tak ada yang mempercayai kebenaran kisah itu. Kecuali satu orang. Dia sangat mempercayai kebenaran kisah itu. Dia adalah Aku, alasanku mempercayai cerita itu adalah karena aku pernah bertemu salah satu Pemetik Bintang.

Waktu itu aku masih penuh dengan berbagai masalah yang selalu saja datang menghampiri hari. Tak pernah ada yang namanya ketenangan pada hidupku kecuali saat malam tiba. Malam memberiku kedamaian yang membuatku melupakan semua masalah,. Karena itulah setiap kali malam tiba, aku selalu pergi keluar rumah dan berdiam diri menghabiskan malam.

Pernah suatu malam, saat aku termenung di atap sebuah gedung tinggi, setelah satu hari penuh masalahku berlalu, bulan itu datang. Saat malam tengah tunggi-tingginya dan aku berdiri di tepi atap memandang bintang, Bulan bersinar putih itu datang menghampiri.

Setelah perkenalan yang singkat, keduanya menjadi akrab malam itu. Aku menceritakan semua kisahku yang penuh masalah, dan Bulan berwajah teduh itu hanya mendengarkan dengan baik. Aku juga menceritakan tentang perasaan damainya saat malam menghampiriku, kemudian bulan itu menjawab dengan mengatakan bahwa dia juga damai bersama malam, terlebih malam itu karena dia bertemu denganku.

Aku hanya tersenyum mendengar jawaban itu, dan saat itulah sekilas aku melihat bintang jatuh. Karena itu aku segera memejamkan mata seraya berdoa, tapi bulan yang bersamaku mengatakan bahwa doaku hanya akan sia-sia.Aku membuka mataku dan menuntut alasan dari Bulan.

Lalu Bulan itu menjawab bahwa bintang yang berlalu cepat seperti itu takkan sempat mendengar sebuah doa, terlebih mengabulkannya. Bulan itu juga mengatakan bahwa bintang jatuh adalah bintang yang berlari karena tak sanggup mendengar dan mengabulkan permohonan, dan sesungguhnya bintang yang bertaburan di langit sana itulah yang pantas menerima permohonan.

Aku berpaling dari Bulan itu dan menatap langit di atas sana. Sata itulah Bulan yang menerangiku kini meminta agar aku menengadah ke atas sambil memejamkan mata untuk berdoa. Bulan itu menegaskan bahwa para bintang akan mengabulkan permintaan dari manusia yang damai saat melihat bintang, Bulan itu juga mengatakan bahwa sebenarnya yang membuatku damai adalah bintang, bukan malam.

Akupun menurut. Dengan tanganku, ku coba memejamkan mata seraya berdoa. Saat itulah Bulan membuat seluruh bintang tampak semakin benderang menerima permohonanku.

Bulan itu memintaku membuka mata, lalu menanyakan apakah perasaanku lebih baik. Aku mengangguk dengan sebuah senyum yang sangat lebar. Bulan itu kemudian berlalu beriring dengan senyumnya, dia melangkah menjauhiku yang saat itu mulai heran.Aku mencoba memanggil Bulan yang semakin jauh itu, namun suaraku diabaikan oleh Bulan.

Sesaat Bulan itu berhenti dan mengatakan bahwa semua masalahku akan hilang di keesokan harinya, kemudian dia kembali melangkah, akan tetapi saat aku menanyakan apakah dia akan kembali menemuiku, Bulan itu kembali terhenti.

Dia hanya mengatakan bahwa kelak aku tak perlu keluar malam untuk mencari kedamaian. Lalu Bulan itu berlalu meninggalkanku.

Doaku seolah-olah dikabulkan bintang. Hari-hari setelah aku bertemu dengan Bulan tak didatangi masalah sekalipun. Bahkan seluruh masalah yang dulu aku alami tampak hanya bagaikan mimpi. Hari-hari ku begitu ceria dan damai. Aku selalu saja riang dan penuh rasa ingin tahu terhadap semua hal. Setiap malam aku selalu saja tidur dengan lelap setelah melalui hari yang melelahkan namun sangat menggembirakan. Tak pernah ada lagi yang namanya berdiam diri di malam hari. Aku benar-benar bahagia dengan kehidupan siangku, bahkan lambat-laun aku mulai melupakan tentang Bulan, namun suatu ketika oleh entah sebab apa aku teringat dengannya.

Aku berlari menembus malam menuju tempat di mana aku bertemu dengan Bulan. Aku kecewa setelah semalaman menanti, sosok bulan tak juga muncul.

Hari berikutnya aku memutuskan untuk datang ke tempat itu lagi. Ada hal mengerikan yang terjadi pada hariku.Malam ini aku kembali merenung di bawah naungan bintang. Aku menangis dalam kesendirian tempat dulu bertemu dengan Bulan yang merubah hariku. Dan saat itulah, saat aku menangis tersendu, beriring dengan belaian angin malam Bulan itu kembali muncul mendekatiku.

Bulan menanyakan kenapa aku kembali datang dengan air mata yang sedemikian dera, kemudian dengan tatapan pilu,aku berpaling kepada Bulan. Aku berkata bahwa hari itu adalah hari di mana kebahagianku berakhir. Aku menjelaskan bahwa hari ini, separuh hidupku yang sedemikian aku cintai dan mencintaiku meninggalkanku.

Kemudian Bulan bertanya apakah aku datang menyambut bintang untuk memohon agar orang yang aku cintai bersama lagi atau hanya sekedar untuk memamerkan airmata kepada bintang?

Aku membisu. Aku tak sanggup menjawab dengan alasan apapun di antara tangis yang terus berlinang. Kemudian Bulan berkata bahwa bintang mungkin tak dapat mengembalikan cintaku yang telah pergi, tetapi setidaknya bintang dapat membantu menghilangkan rasa kesedihan akan kepergian yang menyakitkan itu.

Bulan menjulurkan cahayanya ke arah salah satu bintang yang paling terang. Aku hanya mampu menatap penuh tanya ke arah Bulan. Sedetik kemudian secercah cahaya keemasan muncul, dan begitu cahaya itu sirna, Bulan menjulurkan cahayanya kepadaku sambil berkata bahwa dia telah memetik bintang untuk aku jaga, agar kelak aku hanya perlu menggenggam erat bintang itu kapanpun aku perlu kedamaian.

Akupun pulang dengan membawa bintang, dan setelah malam itu berlalu, aku mulai bisa mengendalikan kesedihan. Aku menjalani kehidupanku dengan wajar, dan meski masalah datang, setidaknya masih sangat wajar untuk dihadapi. Aku juga terus menyimpan bintang, agar kapanpun aku merasa sendiri, dan seolah tak sanggup menghadapi hari, aku selalu menggnggam erat bintangku sehingga kedamaian dan harapan selalu mendatangi dan begitulah seterusnya.

PESAN TERAKHIR DARI SAYANGKU

Mimpi kita untuk mengikat janji telah pudar.Maafkan aku karena tak bisa memperjuangkan hubungan kita.Maafkan aku karena telah ingkar untuk selalu di sisimu.Jujur aku masih sangat mencintaimu.Aku masih berharap bisa menjadi pasangan hidupmu.Tapi,aku mohon mengertilah dengan keadaan posisiku saat ini.Aku tak ingin menjadianak yang durhaka.Bagaimanapun,aku tetapbutuh dan menjadi milik keluargaku.Aku tak akan berhenti untuk memohon kepada sang ILAHI agar suatu saat kita di persatukan di jalanNYA.Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersatu kembali,semoga kau bisalebih baik dariku.I love You,Sayang..

KATA BINTANG


K ulihat bulan yang indah di langit yang lebam,

A wan yang hitam mengontraskan suasana yang mencekam,

T autkan kesedihan yang kini singgah di peraduan malam,

A baikan cahaya yang tertorehkan dari sang rembulan,



B ait dan syair yang kukabarkan pada sang bulan,

I tulah curahan yang kutorehkan dari hati terdalam,

N antikan jawabmu atas tanyaku duhai bulan,

T atapku akan dirimu yang kelap kelip di lautan malam,

A ku ingin kau hampiri aku dalam impian,

N aungi aku saat aku dirundung kesedihan,

G egap gempita kusambut dirimu saat kau datang.

Terima kasih bulan, terima kasih bintang


malam ini..

ku termenung di kamar tidurku

paras wajah ku muram

mata ku tak henti mengeluarkan air mata

ku ter ingat pada hari ini

ku merasa perjuangan ku hanya sia-sia

tapi….

seketika aku ingin untuk melihat bulan dan bintang

malam begitu cerah..

ku lihat bulan seperti tersenyum padaku

ku lihat bintang seolah tak ingin ku menangis

sekarang ku sadar

hari ini adalah kegagalan ku

yang harus menjadi cambuk keberhasilan

untuk masa depan ku nanti

terima kasih bulan

terima kasih bintang

karna telah membangkitkan semangat ku

Bulan Yang Tak Ada Di Langit Itu


Malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Cerah, dengan bintang-bintang bertaburan, seperti serpihan permata yang menyerbuk, menyerupai debu-debu di alas angkasa di atas sana. kelihatan begitu semrawut dan acak ditemani sang Bulan, tapi indah. Seperti takdir. Andai aku percaya pada takdir. Dan seperti takdir pula, bintik-bintik itu tak betul-betul acak. Ia tersusun. Rapi. Terorganisir. Tak ada ruang untuk kebetulan dan ketaksengajaan. Koordinat mereka ternyata sama akuratnya dengan posisi planet-planet di sistem tata surya. Bintang, meteorit, debu-debu angkasa, Bulan,ternyata disusun dan ditata sama dengan planet-planet dan satelit-satelit besar. Tak ada beda. Tak ada pengecualian.

Telah kuputuskan bahwa malam ini akan kuhabiskan dengan menatap langit cerah ini, yang tentu saja langka di bulan Januari, dimana awan hitam dan berat akibat menampung hujan senantiasa menggelantung di atas sana. Malam ini akan kujadikan masa laluku sebagai objek untuk kutuju dalam bernostalgia. Bagiku nostalgia lebih mirip perjalanan mengendarai mesin waktu, ke masa-masa yang telah terlewati. Cukup dengan memejamkan mata. begitu semua pandanganku menghitam, itu berarti aku sudah ada di sana, di tempat yang benar-benar kusinggahi. Di situasi yang dulu benar-benar aku alami.

Dan kini kehidupanku telah banyak mengalami perubahan. Meskipun aku masih ingin menjelajahi seluk beluk kehidupan di dunia ini, aku ingin sesegera mungkin bertemu denganmu, dan saling berbagi cerita. Aku ingin memberitahumu bahwa kini aku hanya seorang pelari dan petualang dalam lintasan kehidupan di dunia ini. Dan selain pelari aku juga pengejar bulan. Sinar pertama yang datang dalam hidupku.Engkaulah bulan itu, . Bulan yang tak ada di langit itu.

ANTARES

Kumemandangmu dalam keagungan di semesta malam. Engkaulah, satu dari taburan yang teruntai di kejauhan galaksi. Kusapa engkau dalam kekaguman tak terhenti.Engkaupun tersenyum sembari mengedipkan matamu nan lentik. Binar sinarmu memancar pesona tiada tara.Kaupun mengajakku dengan seribu warna yang belum pernah engkau lihat sebelumnya.Sungguh, andai kumampu.Aku tak mempunyai energi tuk meloncat dari dimensi Bumi.Wajahmu mendadak suram. Senyummu perlahan pudar.“Jangan bersedih. Aku sudah bahagia bisa melihatmu dari sini!”hiburku.Tak berapa lama, wajahmu perlahan menghilang. Bersama pagi yang datang menyapa mata ini. Kucari-cari engkau. Di antara sapa embun nan lembut yang menyambutku. Kusibak berlembar-lembar awan sepanjang siang. Namun tak jua kudapati hadirmu di sana.Barulah ketika petang mengumandangkan malam, wajahmu terlihat lagi. Engkau tersenyum menyapa diri ini.Sungguh, senang bisa menjumpaimu lagi.Pertemuan ini telah memuaskan dahaga kerinduanku.Sepanjang hari ku mencari arah pergimu.Kaupun berkata"Aku tak kemana-mana,Aku selalu di sini. Melihatmu dari persemayamanku namun Cahaya surya menyilaukan pandangmu di hadapannya aku hanyalah lentera mungil yang tiada berarti . Hingga hadirku serasa tak bermakna dan begitulah kebanyakan manusia. Ketika datang pesona baru yang lebih cemerlang, pesona lama akan terasa pudar. Dan kebanyakan mereka cenderung melupakan yang lama.Adalah hal yang wajar karena sapa sang Surya bisa engkau rasakan kehangatan dekapannya. Sedangkan aku...?”Engkau tak meneruskan ucapanmu. Wajahmu kini murung. Namun hanya sebentar. Sesaat kemudian engkau berkata dengan tersenyum.“Ketahuilah, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Sebagaimana sang Surya.Engkau mulai bersenandung. Menggerakkan wajahmu, masih dengan seuntai senyum.Sungguh gemulai.Kurasakan hadirmu yang kian dekat padaku. Sekelilingku terasa benderang. Kehangatan kini membalut seluruh tubuh. Terlihat sepintas rona-rona warna cemerlang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hanya sepintas, lalu gelap menghinggapiku.Dalam kekalutan, kuteriakkan namamu. Dalam desah, kuberharap hadirmu kembali. Namun hanya kesunyian, yang kurasakan.Bintang-bintang baru telah bermunculan. Menari-nari di angkasa. Kerlip-kerlipnya bertaburan di kejauhan. Menebarkan pesona baru.Kuacuhkan tarian mereka. Kupandang lagi kejauhan semesta. Berharap kujumpa engkau di sana. Dan bila malam telah digantikan pagi, kala mata ini tak mampu lagi menatap wajah langit, kubiarkan mimpi bertamu. Berharap engkau akan menyapaku di situ…