Rabu, 01 Februari 2012
‘Pemetik Bintang’
Suatu ketika pernah ada cerita. Tentang sekumpulan orang dengan asa dan impian yang sangat tinggi untuk berjalan menyusuri dunia mencari tempat terdekat dengan bintang. Orang-orang itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Pemetik Bintang’
Para Pemetik Bintang berjalan dan terus berjalan tanpa kenal lelah, hingga pada akhirnya mereka sampai pada puncak gunung tertinggi di dunia. Mereka menanti malam berbintang tiba, dan begitu malam menghampiri, mereka segera melakukan pemujaan dan berdoa kepada para bintang. Mereka yakin bintang dapat menedengar permohonan dan mengabulkannya bila mereka para Pemetik Bintang berada begitu dekat dengan para bintang.
Benar saja. Tiba-tiba langit bercahaya begitu terang, dan menjatuhkan beberapa bintang kepada para Pemetik Bintang untuk mengabulkan harapan mereka. Merasa tujuan mereka telah tercapai, para Pemetik Bintang memutuskan untuk berpisah dan menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan sumber harapan yang telah mereka miliki.
Cerita Pemetik Bintang itu diceritakan turun temurun dari berbagai generasi, namun tentu saja di masa kini tak ada yang mempercayai kebenaran kisah itu. Kecuali satu orang. Dia sangat mempercayai kebenaran kisah itu. Dia adalah Aku, alasanku mempercayai cerita itu adalah karena aku pernah bertemu salah satu Pemetik Bintang.
Waktu itu aku masih penuh dengan berbagai masalah yang selalu saja datang menghampiri hari. Tak pernah ada yang namanya ketenangan pada hidupku kecuali saat malam tiba. Malam memberiku kedamaian yang membuatku melupakan semua masalah,. Karena itulah setiap kali malam tiba, aku selalu pergi keluar rumah dan berdiam diri menghabiskan malam.
Pernah suatu malam, saat aku termenung di atap sebuah gedung tinggi, setelah satu hari penuh masalahku berlalu, bulan itu datang. Saat malam tengah tunggi-tingginya dan aku berdiri di tepi atap memandang bintang, Bulan bersinar putih itu datang menghampiri.
Setelah perkenalan yang singkat, keduanya menjadi akrab malam itu. Aku menceritakan semua kisahku yang penuh masalah, dan Bulan berwajah teduh itu hanya mendengarkan dengan baik. Aku juga menceritakan tentang perasaan damainya saat malam menghampiriku, kemudian bulan itu menjawab dengan mengatakan bahwa dia juga damai bersama malam, terlebih malam itu karena dia bertemu denganku.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban itu, dan saat itulah sekilas aku melihat bintang jatuh. Karena itu aku segera memejamkan mata seraya berdoa, tapi bulan yang bersamaku mengatakan bahwa doaku hanya akan sia-sia.Aku membuka mataku dan menuntut alasan dari Bulan.
Lalu Bulan itu menjawab bahwa bintang yang berlalu cepat seperti itu takkan sempat mendengar sebuah doa, terlebih mengabulkannya. Bulan itu juga mengatakan bahwa bintang jatuh adalah bintang yang berlari karena tak sanggup mendengar dan mengabulkan permohonan, dan sesungguhnya bintang yang bertaburan di langit sana itulah yang pantas menerima permohonan.
Aku berpaling dari Bulan itu dan menatap langit di atas sana. Sata itulah Bulan yang menerangiku kini meminta agar aku menengadah ke atas sambil memejamkan mata untuk berdoa. Bulan itu menegaskan bahwa para bintang akan mengabulkan permintaan dari manusia yang damai saat melihat bintang, Bulan itu juga mengatakan bahwa sebenarnya yang membuatku damai adalah bintang, bukan malam.
Akupun menurut. Dengan tanganku, ku coba memejamkan mata seraya berdoa. Saat itulah Bulan membuat seluruh bintang tampak semakin benderang menerima permohonanku.
Bulan itu memintaku membuka mata, lalu menanyakan apakah perasaanku lebih baik. Aku mengangguk dengan sebuah senyum yang sangat lebar. Bulan itu kemudian berlalu beriring dengan senyumnya, dia melangkah menjauhiku yang saat itu mulai heran.Aku mencoba memanggil Bulan yang semakin jauh itu, namun suaraku diabaikan oleh Bulan.
Sesaat Bulan itu berhenti dan mengatakan bahwa semua masalahku akan hilang di keesokan harinya, kemudian dia kembali melangkah, akan tetapi saat aku menanyakan apakah dia akan kembali menemuiku, Bulan itu kembali terhenti.
Dia hanya mengatakan bahwa kelak aku tak perlu keluar malam untuk mencari kedamaian. Lalu Bulan itu berlalu meninggalkanku.
Doaku seolah-olah dikabulkan bintang. Hari-hari setelah aku bertemu dengan Bulan tak didatangi masalah sekalipun. Bahkan seluruh masalah yang dulu aku alami tampak hanya bagaikan mimpi. Hari-hari ku begitu ceria dan damai. Aku selalu saja riang dan penuh rasa ingin tahu terhadap semua hal. Setiap malam aku selalu saja tidur dengan lelap setelah melalui hari yang melelahkan namun sangat menggembirakan. Tak pernah ada lagi yang namanya berdiam diri di malam hari. Aku benar-benar bahagia dengan kehidupan siangku, bahkan lambat-laun aku mulai melupakan tentang Bulan, namun suatu ketika oleh entah sebab apa aku teringat dengannya.
Aku berlari menembus malam menuju tempat di mana aku bertemu dengan Bulan. Aku kecewa setelah semalaman menanti, sosok bulan tak juga muncul.
Hari berikutnya aku memutuskan untuk datang ke tempat itu lagi. Ada hal mengerikan yang terjadi pada hariku.Malam ini aku kembali merenung di bawah naungan bintang. Aku menangis dalam kesendirian tempat dulu bertemu dengan Bulan yang merubah hariku. Dan saat itulah, saat aku menangis tersendu, beriring dengan belaian angin malam Bulan itu kembali muncul mendekatiku.
Bulan menanyakan kenapa aku kembali datang dengan air mata yang sedemikian dera, kemudian dengan tatapan pilu,aku berpaling kepada Bulan. Aku berkata bahwa hari itu adalah hari di mana kebahagianku berakhir. Aku menjelaskan bahwa hari ini, separuh hidupku yang sedemikian aku cintai dan mencintaiku meninggalkanku.
Kemudian Bulan bertanya apakah aku datang menyambut bintang untuk memohon agar orang yang aku cintai bersama lagi atau hanya sekedar untuk memamerkan airmata kepada bintang?
Aku membisu. Aku tak sanggup menjawab dengan alasan apapun di antara tangis yang terus berlinang. Kemudian Bulan berkata bahwa bintang mungkin tak dapat mengembalikan cintaku yang telah pergi, tetapi setidaknya bintang dapat membantu menghilangkan rasa kesedihan akan kepergian yang menyakitkan itu.
Bulan menjulurkan cahayanya ke arah salah satu bintang yang paling terang. Aku hanya mampu menatap penuh tanya ke arah Bulan. Sedetik kemudian secercah cahaya keemasan muncul, dan begitu cahaya itu sirna, Bulan menjulurkan cahayanya kepadaku sambil berkata bahwa dia telah memetik bintang untuk aku jaga, agar kelak aku hanya perlu menggenggam erat bintang itu kapanpun aku perlu kedamaian.
Akupun pulang dengan membawa bintang, dan setelah malam itu berlalu, aku mulai bisa mengendalikan kesedihan. Aku menjalani kehidupanku dengan wajar, dan meski masalah datang, setidaknya masih sangat wajar untuk dihadapi. Aku juga terus menyimpan bintang, agar kapanpun aku merasa sendiri, dan seolah tak sanggup menghadapi hari, aku selalu menggnggam erat bintangku sehingga kedamaian dan harapan selalu mendatangi dan begitulah seterusnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar