Rabu, 01 Februari 2012
Bulan Yang Tak Ada Di Langit Itu
Malam ini tak seperti malam-malam sebelumnya. Cerah, dengan bintang-bintang bertaburan, seperti serpihan permata yang menyerbuk, menyerupai debu-debu di alas angkasa di atas sana. kelihatan begitu semrawut dan acak ditemani sang Bulan, tapi indah. Seperti takdir. Andai aku percaya pada takdir. Dan seperti takdir pula, bintik-bintik itu tak betul-betul acak. Ia tersusun. Rapi. Terorganisir. Tak ada ruang untuk kebetulan dan ketaksengajaan. Koordinat mereka ternyata sama akuratnya dengan posisi planet-planet di sistem tata surya. Bintang, meteorit, debu-debu angkasa, Bulan,ternyata disusun dan ditata sama dengan planet-planet dan satelit-satelit besar. Tak ada beda. Tak ada pengecualian.
Telah kuputuskan bahwa malam ini akan kuhabiskan dengan menatap langit cerah ini, yang tentu saja langka di bulan Januari, dimana awan hitam dan berat akibat menampung hujan senantiasa menggelantung di atas sana. Malam ini akan kujadikan masa laluku sebagai objek untuk kutuju dalam bernostalgia. Bagiku nostalgia lebih mirip perjalanan mengendarai mesin waktu, ke masa-masa yang telah terlewati. Cukup dengan memejamkan mata. begitu semua pandanganku menghitam, itu berarti aku sudah ada di sana, di tempat yang benar-benar kusinggahi. Di situasi yang dulu benar-benar aku alami.
Dan kini kehidupanku telah banyak mengalami perubahan. Meskipun aku masih ingin menjelajahi seluk beluk kehidupan di dunia ini, aku ingin sesegera mungkin bertemu denganmu, dan saling berbagi cerita. Aku ingin memberitahumu bahwa kini aku hanya seorang pelari dan petualang dalam lintasan kehidupan di dunia ini. Dan selain pelari aku juga pengejar bulan. Sinar pertama yang datang dalam hidupku.Engkaulah bulan itu, . Bulan yang tak ada di langit itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar